Opini

Masa Kecil Bahagia anak 90an

By  | 
Menjadi generasi yang terlahir di era 90an merupakan sebuah keberkahan tersendiri bagi saya. mulai dari mainan-mainan legendaris, lagu anak-anak yang familiar di telinga hingga film kartun yang beragam.
Belakangan ini saya tertarik untuk bernostalgia dengan tontonan maupun soundtrack film-film jaman 90an dan film kartun sewaktu saya kecil. Jika Anda mencarinya di Youtube ataupun Google, maka Anda akan teringat kenangan masa lalu sebagai anak 90an dengan berbagai genre film yang menyenangkan. Chibi Maruko Chan, Sinchan, Ninja Hatori, Doraemon, Captain Tsubasa, Jiraiya, Panji Manusia Milenium, Saras 008, dan masih banyak lainnya. Meski kebanyakan dari Jepang, setidaknya tontonan-tontonan tersebut sesuai untuk anak-anak, kontras dengan kondisi saat ini dimana tontonan di TV lebih banyak mengandung “sampah” dari pada kualitas.

Saya tidak ingin membahas betapa menyenangkan masa kecil generasi 90an melainkan membandingkan apa yang terjadi saat ini dan apa yang terjadi sewaktu saya kecil. Dunia hiburan untuk segmen anak-anak mengalami penurunan yang cukup drastis. Hari minggu bukanlah hari yang ditunggu anak-anak kecil untuk menonton film favorit mereka, sangat sedikit televisi yang menyediakan tontonan yang menarik untuk anak-anak. Bukan lagi celoteh anak-anak menceritakan Panji Manusia Milenium atau cerita si Doel yang sarat makna melainkan kisah percintaan antara siluman serigala dengan manusia atau geng motor gede yang mengaku anak jalanan. Lagu-lagu yang didengarkan anak-anak bukanlah lagu “diobok-obok” milik Joshua atau lagu “Tikus makan sabun” milik Noni hingga “Bolo-Bolo” Tina Toon melainkan lagu “#eeeaa” yang terkenal dengan  “Bidadari jatuh dari surga”-nya dari C*R. Terlalu banyak konten untuk orang dewasa dijejalkan ke anak-anak saat ini, sangat menyedihkan. Saya tidak ingin menjelek-jelekkan karya seni seseorang, hanya saja seniman  seharusnya berpikir ke depan untuk apa ia membuat sebuah karya. Memang indah, tapi tidak tepat.
Para produser maupun seniman di dunia hiburan segmen anak-anak terlalu dibutakan dengan rating, konten berkualitas bukanlah prioritas.
Bicara tentang sebuah karya seni yang juga dikomersilkan pada akhirnya kita akan melihatnya sebagai sebuah produk. Setiap produk memiliki target pasarnya masing-masing dan produsen harus membuat produknya sesuai dengan kebutuhan target market. Para produser maupun seniman di dunia hiburan segmen anak-anak terlalu dibutakan dengan rating, konten berkualitas bukanlah prioritas. Jika Anda ingin membuat sebuah karya untuk anak kecil atau yang memiliki kemungkinan terlibat dengan anak kecil (status SU-Semua Umur) maka Anda harus melihat apa kebutuhan anak kecil dan bagaimana Anda membuat karya tersebut. Dapatkah Anda melihat jika lagu yang dinyanyikan oleh idola anak-anak seperti C*R menceritakan kisah percintaan yang bahkan anak kecil masih menikmati masa bermainnya. Mari kita lupakan betapa menyedihkan dunia musik anak-anak saat ini dan beralih ke dunia kartun yang Alhamdulillah sudah ada pemain dari Indonesia. Saya cukup bangga dengan keberadaan film “Keluarga Somat”, “Adit, Sopo Jarwo”, dan film kartun asli Indonesia lainnya. Akan tetapi, di balik prestasi itu, saya masih melihat banyak kekurangan disana-sini. Bukan lagi soal kualitas animasi, melainkan kualitas alur cerita yang disajikan, bahasa yang digunakan, hingga kegiatan-kegiatan yang dilakukan. Lihatlah bagaimana perbedaan alur cerita antara “Upin-Ipin” karya Malaysia dengan alur cerita film kartun Indonesia. Upin-Ipin” sangat detail menceritakan bagaimana kehidupan anak kecil sesungguhnya, bagaimana imajinasi mereka, bagaimana mereka berkomunikasi, hingga bagaimana mereka berbuat kesalahan dan mengambil pelajaran dibalik kesalahan itu. Berbeda dengan kartun Indonesia, alur cerita cenderung masih berkacamata orang tua, kisah “Keluarga Somat” yang menceritakan ibu Inah yang selalu pusing menghadapi “Bon” dari tetangganya, apakah anak kecil harus mempelajari apa itu ngebon? itu sangat lucu. Belum lagi ketika pengambilan diksi seperti kata “konsisten”, “depresi” di beberapa scene, apakah diksi itu dimengerti? saya yakin bahkan orang tua pun ada yang tidak mengerti bahasa itu. Hal yang sama juga terjadi pada film kartun “Adit Sopo Jarwo” yang lebih banyak menceritakan tentang Jarwo dengan kehidupan orang dewasanya.
Meski penuh dengan kekurangan, para pejuang dunia hiburan anak-anak tetap harus diapresiasi. Pemerintah dan para stakeholder yang berada dalam Industri ini sudah semestinya serius menggarap segmen anak-anak. Jika secara realistis pemerintah belum bisa berbuat apa-apa, para pebisnis & seniman di dunia hiburan Indonesia seharusnya melihat betapa “ditinggalkannya” dunia hiburan anak-anak dan segera mengambil bagian didalamnya. Mereka harus bergerak  untuk memberikan tontonan berkualitas dan menarik untuk anak-anak. KPI dapat mendukungnya dengan filtering jam tayang, filtering konten yang tidak sesuai untuk anak-anak. Para orang tua atau calon orang tua harus memerhatikan tontonan anak-anaknya. Jika semua stakeholder mengerti kebutuhan anak-anak, maka bisa jadi generasi selanjutnya bisa lebih bahagia dari kami generasi 90an, generasi ank kecil penuh kebahagiaan.
Lupakanlah rating tanpa meaning, terus berjuang industri hiburan anak-anak Indonesia!

Komentar

%d bloggers like this: