Kotak Kardus

Syukur | Kotak Kardus

By  | 

Pagi hari yang diselimuti kabut, dingin udara pagi masih terasa menyengat badan yang kurus ini. “Itu selimut kok dibawa-bawa dapur nang?” tanya Bu Retno kepada Somad anaknya.

“Iya Bu, uademe poll” timpal Somad sambil mengarahkan tangannya didekat tungku api kayu milik ibunya.

Sejak sebelum subuh Bu Retno sudah sibuk dengan pekerjaannya, sebagai penjual kue pagi, ia harus menyiapkan bahan dan memasak sedari pukul 2 pagi. Matanya yang mengantuk tidak bisa ia tutupi didepan anaknya yang sedang di kampung saat liburan kuliah. “Bu, sini aku gantiin dulu, ibu bisa sholat shubuh dulu sama sambil istirahat”, Somad mengambil alih posisi penjaga tungku dan ingin ibunya istirahat sejenak.

Sudah seperti kejadian yang masih terus berulang setiap Somad pulang kampung, kondisi keluarganya belum kunjung berubah. Banyak sekali permasalahan yang ia hadapi, mulai dari keterbatasan ekonomi hingga adik-adiknya yang bertindak diluar batas. Ayahnya merantau di luar pulau dan jarang kembali ke kampung, saat ini kondisi pekerjaannya pun sedang kurang baik sehingga sangat kurang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Ibu, gimana kabar selama ini?”

“Yah, alhamdulillah mad, masih bisa kita makan meskipun harus utang sana utang sini”

Percakapan ini memulai cerita panjang Bu Retno kepada anaknya tentang kondisi keluarga yang terkini. Somad mendengarkannya sambil tertunduk. Setiap hari ibunya harus berjualan kue ke pasar, mengolah bahan hingga larut malam dan harus bangun pukul 2 pagi, memasak untuk adik-adiknya, dan pergi ke pasar di pagi harinya. Setiap hari Bu Retno juga pergi ke sawah menjadi buruh sawah untuk mendapatkan pendapatan tambahan.

“Apa Agus masih begitu bu?” sambung Somad saat ibunya meniup api tungku.

“Yah, kadang masih begitu mad, ngamuk-ngamuk ke adik-adikmu yang dua itu” 

Ibunya seperti merasa bersalah atas kelakuan Agus yang diluar batas, sejak kecil ia memang sangat nakal, Bu Retno hanya bisa mendidiknya dengan keras hingga membekas pada diri Agus yang dewasa. Kondisi ekonomi keluarga dan pendidikan Bu Retno yang rendah, membuatnya semakin bingung dalam menghadapi situasi ini. Somad makin tertunduk mendengar tangis ibunya ketika menceritakan semuanya. Somad bingung apa yang harus ia lakukan untuk menenangkan ibunya sambil sedikit berkelakar, “Bu, sabar ya, semua insyaAllah ada solusinya. Mungkin keluarga kita begini biar alur cerita hidup kita bagus bu, ga bosenin. Kan bagus kalo dibikin novel, hehehe” 

“Ah bisa aja kamu mad”, timpal ibunya sambil sedikit tersenyum.

Somad melanjutkan pembicaraan untuk mencoba menenangkan hati ibunya karena hanya itulah yang saat ini ia bisa lakukan, “Alhamdulillah bu, kuliah Somad lancar-lancar saja, di organisasi yang Somad ikut juga banyak temen yang saling bantu kalo kesusahan. Kalo dipikir, kita masih sangat beruntung ya Bu punya bapak yang masih sangat bertanggung jawab meski sekarang lagi kesusahan. Masih punya rumah meskipun setiap hujan kita kebanjiran. Dan yang terpenting kita semua sehat ya Bu. Allah masih sangat baik ama kita”

“Ya Alhamdulillah nang, kita emang masih banyak dikasih nikmat sama Allah. Maaf ya malah nambah pikiran buat kamu”, sambung ibunya yang sedang membereskan kue.

Somad bangkit dari duduknya dan membangunkan tiga adiknya untuk sholat dan pergi sekolah. Terbesit dalam pikirannya betapa ia tidak bisa melakukan apa-apa atas kondisi keluarganya saat ini. Melihat ibu dan adiknya menderita di rumah yang bocor atapnya, lantai yang masih berupa tanah, ibunya yang bekerja siang malam, ditambah dengan kelakuan adiknya yang paling besar yang sangat meresahkan semua anggota keluarganya, bertindak semau sendiri dan seringkali menjadikan adiknya sebagai objek marah-marahnya. Belum lagi, tetangga dan saudara Bapaknya yang acuh tak acuh atas kondisi keluarganya. Terasa sakit dikepala untuk Somad pikirkan dan ia hanya bisa berdoa di dalam hati, “Ya Allah, bantulah hamba untuk mengatasi kondisi ini”

Pagi itu, semua adiknya bersiap dan bangun untuk berangkat sekolah, kecuali si Agus yang kebetulan libur. “Gus, bangun sholat shubuh! udah jam 6 lebih” Somad membangunkan adiknya.

“Ya, ntarlah!” sahut adiknya dengan nada yang keras

Sontak Somad marah mendengar reaksi adiknya. Kehidupannya yang keras sejak kecil membentuknya menjadi seorang yang keras jika menghadapi masalah penting seperti ini, apalagi jika menyangkut sholat. Ia mengambil air dan menyipratkannya ke Agus.

“Apa sih! bukan urusanmu, mau sholat sekarang atau nanti!” Agus memukul somad kearah matanya

“Oh gitu ya? Disuruh sholat malah bentak!”

Somad yang geram ingin sekali membalas adiknya itu, tapi Bu Retno memisahkannya karena sangat mengerti bagaimana perilaku Agus selama ini. Agus dan Ibunya pergi ke depan rumah, “Percuma mad, nanti malah kamu yang ikut kena, dia kan gapernah mikir kalo udah ngamuk. Kita masih mikir-mikir buat balik ngamuk ke anak itu. Maafin ibu ya, udah bikin kamu makin stress mikirin rumah, maafin ibu” 

Ibunya hanya bisa menangis melihat kondisi pagi ini, Somad meneteskan air matanya dan berpikir keras bagaimana cara menyelamatkan semua anggota keluarganya dari kondisi ini. Baginya, keluarga adalah nomor satu dalam hidup, ia akan memperjuangkannya dengan sekeras apapun. “Setiap hari dia begitu mad, bertindak seenaknya sendiri, apalagi kalo ibu membicarakan pacarnya, ia semakin brutal, pacarnya pun gaada bedanya. Sama-sama bandel” 

“Maafin Somad ya bu, tiap hari ibu sama adek-adek menderita, tapi Somad gabisa ada terus disini”

“Kamu kan lagi belajar nang, insyaAllah nanti juga bantu keluarga buat keluar dari kondisi ini”

“Bu, kalo kita pindah dari sini gimana bu? tapi aku belum tau bisa kapan” tanya Somad sepintas terpikir untuk segera mengakhiri kondisi ini.

“Yah mad, belum tau juga, kan perlu banyak biaya buat kita pindah. Yaudah Ibu berangkat dulu ya” sahut Bu Retno sambil mengusap air matanya dan bergegas untuk pergi ke pasar.

Akhirnya pagi itu dipenuhi dengan mendung di hati Somad. Ia membereskan seisi rumah yang ia bisa bereskan dan bersihkan sambil terus melamun, memikirkan kondisi keluarganya…


“Eh mad, jangan ngelamun mulu ntar kesurupan” Sapaku ke Somad

“Eh, Arif. Iya nih, aku masih kepikiran rumah”

“Udah-udah, kan udah cerita tadi. Yuk ndang berangkat, ntar kesiangan, kita gabisa jualan nasi uduk entar”

Aku dan Somad memang sudah terbiasa berjualan nasi uduk dari kamar ke kamar, asrama kami begitu luas dan sarapan pagi menjadi primadona untuk para mahasiswa. Kami seperti alarm pagi yang membangunkan mereka setiap hari. “Sarapan, sarapan, sarapaaan! Nasi uduk! lima ribuan!”

Pagi itu adalah pagi yang menyenangkan setelah liburan, kami menjual banyak bungkus nasi uduk. “Alhamdulillah bro, habis juga dalam 30 menit”

“Yoha, udah bisa siap-siap ngampus kalo gini, hehehe” Jawab Somad sumringah.

“Nah gitu sumringah, pasti ibu kamu juga pingin kamu semangat setiap saat. Jangan sia-siakan perjuangan beliau dengan ke-letoy-an lo. Hahaha”, Kami hanya bisa tertawa bersama menyambut pagi sendu dan bahagia. Akhirnya aku berangkat ke Fakultas Ekonomi bersama Somad  yang berada di fakultas yang berbeda, Fakultas Ilmu Budaya. Kami melanjutkan kisah kami masing-masing di dunia perjuangan kami, di Kotak Kardus kisah hidup kami… (bersambung)

Komentar

%d bloggers like this: